Disanalah Batas Kita Untuk Berhenti

Masalah dalam hidup ini memberikan tekanan yang berat bagi kita, masalah demi masalah terus berganti setiap waktu, jika masalah sekarang tidak kita selesaikan dan memilih untuk meninggalkannya, maka di kemudian hari masalah tersebut akan tetap mengikuti kita seperti bayangan yang tak mungkin akan hilang. Kadang kita menginginkan untuk menghilang dari dunia ini agar terlepas dari masalah-masalah yang membelit kita. Ingin rasanya merasakan dunia tanpa masalah. Tetapi jika kita tidak terus dililit oleh masalah, maka kita tidak lah hidup.

Setiap fase kehidupan memiliki masalahnya sendiri yang pasti sesuai dengan level kehidupan masing-masing, tidak akan masalah orang dewasa akan terjadi pada seorang remaja. Tentu itu tidak masuk akal karena untuk level ketahanan fisik dan mental tidak akan sanggup untuk menghadapi masalah yang bukan pada levelnya. Semakin kita bertambah usia, maka masalah yang harus kita hadapi semakin besar sesuai dengan ketahanan yang kita miliki. Semakin kita berhasil melalui masalah yang berat pada saat ini, maka ketahanan mental kita akan terus bertambah dan semakin kuat, maka semakin berat juga masalah yang menanti kita di depan sana.

Kenapa kita memerlukan masukan dari orang yang lebih berpengalaman dan yang memiliki usia hidup lebih lama dari kita, karena mereka sudah melewati masalah berat yang kita hadapi sekarang, dorongan dan masukannya akan memberikan solusi dan jalan keluar untuk kita bisa menghadapi masalah-masalah yang sekarang ini. Masalah itu berat karena kita belum tahu untuk menyelesaikan masalahnya. Orang yang telah berhasil mengetahui cara untuk menyelesaikan masalahnya maka ketika masalah serupa datang lagi, bukan sesuatu yang akan memberatkan untuk di selesaikan, dan tentu semakin banyak masalah berat yang kita selesaikan, maka akan semakin berat pula masalah yang menunggu kita di depan sana.

Pengalaman ini terjadi pada penulis sendiri, kala itu ayah penulis menghadapi masalah lilitan hutang yang luar biasa banyak dan ke banyak orang, sampai si ayah ini menghilang dari rumah untuk beberapa saat, bisa dikatakan berbulan atau bertahun. Hingga akhirnya masalah itu pun selesai, hutang yang bergelimpangan di selesaikan oleh si ayah tanpa sepengetahuan keluarga, termasuk anak-anak. Kami yang menjad anaknya hanya menaruh curiga bahwa si ayah telah lari dari masalahnya. Memang sebelumnya ketika si ayah ada dirumah, hampir setiap hari penagih hutang datang silih berganti tanpa henti, dan memang keadaan dirumah mulai terasa menegangkan karena ternyata ibu penulis, kakak dan saudara penulis sudah tidak kuat dengan keadaan dirumah yang selalu di datangai oleh penagih. Dan akhirnya pada suatu hari si ayah pun pergi entah kemana tanpa ada kabar berita, seolah hilang ditelan bumi.

Tetapi betapa hebat ketahanan fisik dan mentalnya, entah apa yang di kerjakannya, dan entah bagaimana bisa si ayah bertahan. Ketika si ayah kembali semua masalah telah dia selesaikan dengan berbagai cara yang telah dia rencanakan. Si ayah memilih pergi dari rumah dengan tujuan untuk mengamankan mental keluarga dari masalah yang sedang terjadi, sengaja si ayah tidak memberikan kabar sama sekali selama kepergiannya dengan tujuan agar tidak ada kebohongan ketika ada yang bertanya kepada keluarganya tentang dirinya untuk menagih hutang. Tanpa penulis sadari, hutang yang tadinya banyak luar biasa yang tidak mungkin bisa terbayar dengan keadaan kami waktu itu diselesaikannya tanpa melibatkan keluarga.

Pelajaran berharga dari pengalaman itu adalah betapa jauh berbeda level ketahanan fisik dan mental antara penulis dan si ayah. Penulis berpikir bahwa hutang dengan nilai ini dan dengan keadaan sekarang ini tidak mungkin bisa diselesaikan. Tidak tersirat dalam pikiran saya selaku anak bagaimana cara untuk bisa menyelesaikan masalah ini. Bahkan bisa dikatakan itu mustahil untuk bisa diselesaikan. Tetapi di buktikan oleh si ayah bahwa masalah tersebut bukan masalah yang bisa diterima apa lagi diselesaikan oleh anak-anaknya karena perbedaan level ketahanan tersebut. Hanya dia sendiri yang bisa menyelesaikan, dan terbukti masalah tersebut bisa diselesaikan dengan sangat baik. Jadi setiap fase kehidupan memiliki masalahnya sendiri yang memang semua masalah itu berat dan akan memberikan beban yang luar biasa. Tetapi ketika kita memilih untuk menghadapinya dan yakin akan diri kita, maka tidak ada yang mustahil. Dalam ajaran Islam “setiap masalah akan diberikan pada orang dan waktu yang tepat dan tidak mungkin masalah tersebut akan melampaui kemampuan seseorang dalam menyelesaikannya”. Jadi pada dasarnya setiap masalah akan selalu bisa kita atasi karena masalah tersebut masih dalam sekala level kita untuk menyelesaikannya.

Yang sering menjadi salah ketika kita sedang menghadapi masalah adalah kita putus asa dan akhirnya menyerah untuk menghadapinya, dan dengan mudah kita mengatakan “ini sudah batas ku”. Padahal kita tahu sendiri, batas yang kita miliki hanya satu saja, yaitu kita dibatasi oleh waktu. Selama kita masih memiliki waktu, maka kita masih bisa melakukan banyak hal dan mendapatkan banyak hal pula, tetapi ketika waktu tersebut habis maka, “disanalah batas kita untuk berhenti”.

By : Dicki Koswara

2 Commentsto Disanalah Batas Kita Untuk Berhenti

  1. At this time I am going away to do my breakfast, afterward having my breakfast coming again to read other news.

  2. DeonYHipwell says:

    Helpful info. Fortunate me I discovered your web site by accident,
    and I’m stunned why this accident didn’t happened in advance!
    I bookmarked it.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *