Cerita Dibalik Usia

Cerita ini dimulai pada saat saya memulai sebuah usaha pada usia kurang lebih 25 tahun. Dengan legal usaha sebuah PT, memulai usaha dengan hanya bermodalkan kemauan dan keberanian. Saya memulai dengan beberapa orang relasi yang usianya sudah 10 tahun lebih di atas saya, entah kenapa relasi ini bisa percaya dan mengajak saya bergabung untuk membuat usaha meski waktu itu bisa dikatakan saya belum memiliki kemampuan, apa lagi dalam dorongan dana. Hanya kemauan dan keberanian untuk memulai saja yang saat itu dimiliki.

Tetapi entah kenapa perjalanan ini menjadi begitu berarti karena kehidupan nyata manusia mulai terlihat begitu jelas dengan tanpa adanya istrahat dari masalah yang menghiasi kehidupan ini. Dulu ketika akan memulai, relasi saya selalu memberikan dorongan dan penguatan untuk bisa berdiri dengan kokoh dalam membangun sebuah bisnis. Dulu yang terlintas adalah bisnis dan usaha sama saja tidak ada beda, ternyata setelah di dalami dari perjalanan ini, akhirnya baru bisa saya fahami bahwa usaha dan bisnis itu berbeda.

Memang secara pengertian, usaha dan bisnis memiliki arti yang sama, hanya saja yang membedakan adalah dalam prosesnya. Jika usaha lebih berproses pada progres jangka pendek, semisal kita jualan baju eceran, reseller, dropship, jual pulsa dan lain sebagainya. Usaha lebih menekankan mendapatkan keuntungan yang cepat, meski keuntungan itu terbilang kecil tetapi fokus pada cepat atau tidaknya keuntungan itu bisa didapatkan. Juga sebuah usaha lebih rentan untuk mengalami naik turun dan bahkan bisa hanya bertahan beberapa lama saja.

Kebanyakan dari kita ketika memulai untuk berdagang, apakah menjadi reseller atau dropship dengan sistem pemasaran via online, atau jual pulsa. Maka yang kita lakukan adalah usaha. Apa yang kita lakukan tersebut bisa jadi tidak akan bertahan lama, hanya ketika kita ingin melakukannya, maka kita lakukan. Tetapi tidak secara continue dipikirkan secara matang agar usaha tersebut bisa bertahan minimal 5 tahun atau lebih. Jika kita berkata akan memulai sebuah usaha, maka kemungkinan kita masih berusaha untuk mendapatkan keuntungan secara cepat untuk di konsumsi sehari-hari.

Berbeda dengan bisnis, bisnis berfokus pada proses jangka panjang. Dimana seorang pembisnis akan siap untuk melakukan investasi diawal untuk mendapatkan keuntungan yang besar di kemudian hari. Bisnis lebih matang dalam proses dan progresnya, karena ketika akan memulai bisnis, seorang pembisnis akan siap untuk melakukan proses minimal selama 1 tahun tanpa mendapatkan keuntugan sama sekali bahkan bisa jadi akan banyak waktu dan biaya yang akan keluar untuk mempertahankan bisnis ini agar bisa terus berjalan.

Bisnis merupakan sistem investasi jangka panjang, dimana setiap pembisnis sudah mempersiapkan bisnis yang dijalankannya agar bisa hidup minimal 5 tahun sejak bisnis itu mulai dijalankan. Jadi tidak heran jika tidak semua orang siap untuk berbisnis karena memang harus sudah memiliki ketahanan mental, dana, waktu dan perhatian untuk bisa melakukannya. Jika kita ibaratkan bisnis itu seperti seorang petani yang menanam padi disawah. Untuk menanam padi butuh proses yang panjang dimulai dari penggarapan lahan, penanaman bibit, perhitungan cuaca, perhitungan pupuk, butuh waktu panjang untuk sampai panen, dan lain sebagainya, dalam proses bertani padi tersebut, dalam kurun waktu 5-6 bulan, seorang petani tidak mendapatkan hasil apapun dari apa yang dilakukannya, bahkan lebih banyak pada pengeluaran dana, waktu, tenaga dan perhatian. Dan memang setelah proses itu selesai maka hasil akan datang yaitu masa panen pun tiba.

Bisnis bisa kita ibaratkan dengan pembahasan di atas. Ketika kita akan memulai sebuah usaha, maka kita perlu memperhatikan dengan seksama pergerakan dan prilaku pasar. Kita tidak harus memperhatikan dari segi produksi, toh kenyataannya bukan kita yang melakukan produksi, tetapi kita hanya memasarkan barang yang sudah di produksi oleh pihak lain. Dari segi penghasilan pun, kita tidak bisa mengotak-atik keuntungan, karena sudah ada harga pokok yang tidak bisa kita ganggu gugat dari produsen. Kemudian dipengaruhi juga oleh harga pasaran yang akan kerepotan jika kita menjual barang yang sama dengan harga yang lebih tinggi dari pasaran, jika kita ingin mendapatkan pembeli berarti kita harus bisa menjual dibawah harga pasaran dengan produk yang sama, berarti dengan kata lain, hanya sedikit keuntungan yang bisa kita ambil dari usaha tersebut, dan tentu saja kita tidak bisa memasukan beban biaya operasional, marketing, advertising, penyusutan, pajak, keuntungan dan lain sebagainya pada produk tersebut.

Bayangkan jika kita menjadi reseller atau menjadi pemasar dari produk sebuah perusahaan dan kita masukan biaya-biaya yang disebutkan di atas, katakan kita menjual baju. Kita dapakan harga baju dari produsen kita adalah Rp.50.000 / pcs, dan harga pasaran pesaing kita ada pada angka Rp.60.000. Jika kita masukan perhitungan beban di atas, misal kita ambil operasional 5% = Rp.2.500, biaya marketing 5% = Rp.2.500, biaya advertising 5% = Rp.2.500, biaya penyusutan 5% = Rp.2.500, pajak penjualan 10% = Rp.5.000, keuntungan 5% = Rp.2.500. dengan jumlah total harga jual per pcs adalah Rp. 67.500, katakan kita masukan biaya space nego Rp.5.000 / pcs, maka kita dapatkan harga jual Rp.72.500 / pcs, sedangkan harga pasaran adalah Rp.60.000. maka apa kemungkinan kita memasarkan produk tersebut, mendapatkan keuntungan atau rugi. Jika dilihat dari pemetaan pasar yang mengatakan harga pasaran Rp.60.000 / pcs baju, maka sudah bisa kita prediksi untuk bisa menjual baju tersebut kita membutuhkan keberuntungan yang besar.

Jadi ketika kita berpikir akan memulai sebuah usaha, maka sebenarnya kita sedang terjebak dalam teka-teki hidup yang terikat kuat dengan keadaan ekonomi kita, kadang kita senang dengan mendapatkan sedikit keuntungan, dan kadang kita tertegun ketika kita mendapatkan sedikit kerugian. Tetapi ada satu hal yang tidak kita pelajari dan gunakan dengan sebaik mungkin, ketika kita senang dengan hasil yang sedikit dan kita tertegun dengan kerugian yang sedikit pula, maka sudah berapa banyak waktu yang sudah kita buang untuk semua itu. Pada saat kita berpikir untuk memulai sebuah usaha, yang akan kita pertama pikirkan adalah keuntungannya, besar atau kecilkah keuntungan yang akan kita dapatkan, dan kita perhitungkan berapa kira-kira kita akan mendapat kerugian jika usaha tersebut gagal. Pada level ini kita tidak memperhatikan dan menghitung kemungkinan lain yang akan kita hadapi di depan sana, misalkan seluas apakah lingkup pasar yang akan kita jangkau, seperti apakah segmen pasar yang akan kita hadapi, sejauh mana kita berpikir untuk bertahan dalam usaha tersebut, dan masih banyak lagi hal yang perlu kita pertimbangkan.

Disana letak perbedaan usaha dan bisnis secara teknis pengerjaannya, bisnis adalah ketika kita akan berinvestasi baik dana, waktu dan tenaga. Kita akan memikirkan sebaik dan sematang mungkin untuk memulai sebuah bisnis, karena ketika kita gagal dalam melakukannya, banyak hal yang akan menjadi kerugian kita, tidak hanya dari segi dana saja, tenaga pun akan menjadi kerugian yang besar karena terbuang percuma, dan yang lebih penting lagi, waktu yang sangat berharga telah kita buang percuma. Mungkin kita berpikir itu adalah pembelajaran, kerugian biaya, waktu dan tenaga adalah harga yang pantas untuk Anda bayarkan dalam mendapatkan pembelajaran ini. Apakah kita sadar bahwa pembelajaran dan mempelajari itu beda. Jika memang ingin mendapatkan pelajaran maka sebaiknya Anda siapkan biaya, waktu dan tenaga yang cukup serta mental yang cukup juga untuk menghadapi kegagalan bisnis yang Anda lakukan. Belajar berarti mengeluarkan biaya, waktu dan tenaga untuk mendapatkan pengetahuan, tetapi mempelajari berarti melakukan evaluasi dari apa yang kita kerjakan, bukan dari kegagalan. Lebih baik belajar terlebih dahulu dan nikmati percobaan sebanyak yang Anda inginkan tetapi jangan berharap ada hasil real dari apa yang Anda lakukan. Bisnis harus Anda persiapkan dengan matang, tidak lagi untuk mencoba, tetapi untuk siap memperjuangkan apapun yang terjadi untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Bukan hanya sekali saja saya mengalami kegagalan dalam bisnis, tetapi beberapa kali pernah terjadi sebelum sampai pada saat perusahaan bisa berdiri sendiri tanpa ada campur tangan lagi. Pada akhirnya setiap perjalanan yang kita lakukan mengacu pada pengalaman yang kita miliki, ketika kita belum memiliki pengalaman yang banyak maka wajar ketika kegagalan itu lebih sering menghampiri. Beda halnya dengan orang yang sudah berpengalaman, setiap yang dia lakukan akan menghasilkan hasil yang memuaskan. Kita perlu menggali dan mengumpulkan lebih banyak pengalaman, kegagalan demi kegagalan adalah cara manusia mendapatkan pengalaman dan menemukan cara untuk akhirnya tidak mengalami kegagalan lagi.

Ketika kita akan memulai sebuah usaha dalam bidang apapun itu, jangan pernah terbesit dalam benak kita untuk mencoba terlebih dahulu. Misalkan kita mau berbisnis di bidang pakaian, karenanya kita akan mencoba dulu 3 bulan untuk berbisnis di pakaian. Dan harusnya kita sudah tahu hasil yang akan kita dapatkan karena judul dari apa yang kita lakukan adalah mencoba. Sehingga sudah sangat sewajarnya bahwa hasil yang didapatkan bukan berupa uang, tetapi berupa pengalaman. Tetapi karena kita menganggap setiap bisnis yang tidak menghasilkan keuntungan berupa uang, maka bisnis tersebut gagal. Dan pada akhirnya kita hanya berbisnis selama 3 bulan dan dalam 3 bulan ini kita telah menghabiskan dana cukup besar dan tentu tidak ada modal yang kembali karena kita bertujuan untuk mencoba saja.

Maka sebaiknya ketika kita akan melakukan suatu usaha, lebih baik kita serius dari awal. Ketika kita serius dari awal, maka jelas kita tahu apa yang akan dan sedang kita perjuangkan. Jika hanya mencoba saja, tidak jelas apa sebenarnya yang sedang kita perjuangkan sehingga kegagalan pun kita dapatkan. Mungkin untuk sementara, itu yang bisa kita bahas dalam pembahasan kali ini, lain kali kita akan membahas lebih dalam lagi berkaitan dengan bisnis dan usaha yang akan dan sedang kita jalankan.

By : Dicki Koswara

Jika informasi ini penting, silahkan share kepada yang lainnya :
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *